2 days ago
-
Nadiem Makarim - Menteri pengambil risiko
Tahun 2019, ketika susunan menteri baru pertama kali diumumkan, orang-orang ramai membahas Nadiem Makarim, seorang yang melepas jabatannya sebagai CEO Gojek untuk masuk pemerintahan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Saat itu aku masih SMA, di sekolahku pun ramai orang membahas beliau. Bahasan tidak lain dan tidak bukan datang dari satu hal, yaitu umur. Beberapa orang menganggap beliau masih terlalu muda dan minim pengalaman di pemerintahan, beberapa orang lain menganggap justru menteri muda lah yang dibutuhkan untuk merevolusi sistem pendidikan yang dari dulu sudah rusak.
Aku memiliki ketertarikan terhadap bidang IT, bidang yang sama seperti yang dikuasai oleh Pak Nadiem. Sebagai orang yang bisa mengoperasikan komputer, aku seringkali diminta oleh guru-guru (terutama guru senior) untuk membantu administrasi mereka. Aku sering bantu Guru BK dan wali kelas untuk olah data, rekap nilai, urus raport, dan sebagainya. Ketika mengerjakan itu, aku tak habis pikir menyadari bahwa administrasi yang harus diurus guru benar-benar sebanyak itu
Di sisi lain, aku hidup di lingkungan dimana orang berpikir bahwa orang yang banyak menghafal, maka ia pintar. Orang bisa hafal puluhan rumus matematika dan fisika, tapi tidak mengerti hal sesederhana sepeda yang tidak jatuh ketika dikayuh. Orang bisa hafal ratusan nama latin makhluk hidup, tapi bahkan tidak tahu hewan tersebut makanannya apa. Orang lebih memilih menghafal dibandingkan memahami.
Aku juga hidup di tempat penuh kebohongan. Orang bisa berusaha selama 6 bulan untuk mengerti pelajaran dalam 1 semester, tapi nilainya bisa kalah dengan orang yang mengerjakan tugas 1 hari selesai di akhir semester. Guru tiba² memperbaiki cara mengajar hanya ketika dilihat tim penilai demi menjaga namanya dari nilai buruk. Siswa beramai-ramai curang dalam ujian karena tidak ingin nilainya sesuai dengan kemampuannya yang sebenarnya.
Aku melihat kebohongan itu, semuanya, dinormalisasi. Lalu didepan mataku sendiri, orang yang mencoba sedikit bersuara melawan budaya itu, dihujat dan dibungkam. Hanya sedikit yang membela, karena mayoritas orang melakukan hal yang sama. Ia dihujat karena menjadi satu-satunya orang yang bertindak benar.
Di tengah semua masalah yang aku lihat saat itu, Pak Nadiem muncul dengan pidatonya di Hari Guru Nasional 2019 yang sangat menyentuh.

Mulai saat itu, aku mengagumi sosok Pak Nadiem Makarim sebagai menteri pendidikan karena aku melihat this man knows problems in our system. Dia menyadari ribetnya administrasi seorang guru, dia menyadari ada hal yang lebih penting dibandingkan budaya menghafal, dia juga menyadari nilai-nilai yang penuh kebohongan itu. Setelah sebelumnya aku pesimis terhadap sistem pendidikan Indonesia, saat itu aku mulai berharap bahwa revolusi itu akan terjadi, dimulai dari tangan beliau.
Tentu bukan hal yang mudah untuk mengubah budaya yang sudah mengakar. Melakukan perubahan sangatlah tidak nyaman. Akan banyak pertentangan dari orang-orang kolot yang idealismenya telah pudar karena merasakan manisnya uang pajak rakyat. Apalagi beliau menteri yang sangat muda dan tidak punya pengalaman politik apapun.
Pak Nadiem bukan menteri yang sempurna, banyak kebijakan beliau yang sangat layak dikritik. Meskipun demikian, kita tidak bisa menutup mata terhadap gebrakan beliau yang telah memberi banyak kesempatan anak muda untuk level-up. Mahasiswa bisa eksis di kampus internasional dengan IISMA-nya, Anak IT terbantu dengan program BangkIT-nya, masyarakat terbantu dengan program Kampus Mengajar-nya, orang yang mulai membangun karir bisa mendapatkan pengalaman industri dengan MSIB-nya, dan sebagainya.
Terlepas dari apa yang orang katakan tentang beliau, di antara hujatan, fitnah, sampai sekarang beliau dinyatakan bersalah atas kasus pengadaan chromebook, aku selalu meyakini bahwa beliau bukanlah orang jahat, aku memandang beliau sebagai satu dari sedikit orang yang paling tulus mencintai negara dan sangat peduli akan masa depan bangsa ini.
