2 hours ago
Teknologi
AI: Partner atau Pesaing?

Aku baru saja melihat postingan teman yang mengatakan bahwa AI itu partner, bukan pesaing. Dan aku tidak setuju.
Sejauh ini aku adalah orang yang menganggap AI adalah pesaing, dan sepertinya akan tetap begitu dalam waktu yang lama. Aku akan jelaskan kenapa.
Researcher, Industri, dan rasa gengsi dari persaingan tiap negara menuntut AI untuk menjadi semakin mirip dengan manusia. Mereka berlomba-lomba meniru apa yang bisa dilakukan manusia dan melampauinya. Mereka melakukannya dari hal terkecil seperti memberitahu jadwal hari ini, sampai hal-hal besar seperti membantu mengembangkan dunia AI itu sendiri.
Dengan kemampuan AI yang semakin mirip dengan manusia, tentu AI akan semakin dekat untuk dianggap sebuah entitas manusia itu sendiri. Dengan kondisi kedekatan tak hingga, maka secara resmi ia menjadi sebuah ‘pesaing’ di semua hal yang bisa dilakukan manusia. Bahkan yang lebih mengerikan, AI bisa diproduksi secara masif dalam waktu cepat, tidak seperti manusia yang perlu menunggu waktu panjang untuk tumbuh dan belajar.
Di masa sekarang, mungkin AI baru bisa mengerjakan low-level task seperti staff biasa. Namun, pengembangan AI yang begitu cepat akan dengan sangat mudah menggantikan high-level task seperti people management (yang mungkin nanti tidak lagi me-manage people beneran), atau bahkan membuat pabrik sendiri yang bertujuan membangun kebermanfaatan untuk manusia di masa depan.
Dalam hal tersebut, sudah tentu bahwa semakin lama, AI akan semakin jelas untuk menjadi pesaing, bukan lagi partner.
. . .
Tambahan:Bahkan tanpa orang sadari, dengan menjadikan AI partner, ia telah meningkatkan persaingan manusia lain untuk menjadi partner. AI telah mengambil tugas seorang teman, mentor, dan orang tua yang biasa menasehati anaknya.
